Jabatan; Amanah atau Materialisme



Bismillaahirrahmaanirrahiim.

JABATAN; AMANAH ATAU MATERIALISME
oleh: Mahlil Zakaria

Kekuasaan adalah amanah. Allah Swt berkuasa mengangkat siapapun hamba-Nya untuk menjadi pemimpin, meskipun dalam pandangan manusia dia tidak layak dan tidak patut dijadikan teladan. Sebaliknya Allah Swt juga berkuasa mencabut amanah yang dititipkan pada seorang pemimpin. Hal tersebut mudah bagi Allah Swt sekaligus menasbihkan bahwa hanya Allah Swt yang Mahakuasa dan berkuasa atas makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Ali Imran: 26

قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Terjemah: Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Menjalankan amanah adalah sesuatu yang berat, namun Allah menjanjikan naungan-Nya di hari kiamat kelak bagi pemimpin yang mampu memikul amanah dengan baik sesuai prinsip keadilan dan ketentuan agama.

Amanah adalah Ikhtiar pengabdian dengan pijakan idealisme. Fenomena saat ini, Jabatan ditransaksikan secara pragmatisme dengan orientasi materialisme.

Kenyataannya memang sulit menemukan pemimpin yang adil dan amanah, hal ini tidak terlepas dari proses pemilihan pemimpin dewasa ini yang terkesan sebuah kontes “perebutan” kekuasaan. Menurut al-Ghazali ini dikarenakan jabatan merupakan kelezatan dunia yang terbesar. Dengan berkuasa lantas melekat imej bahwa pemimpin mesti dipuja-puji, diberikan fasilitas tanpa batas serta dapat mempengaruhi dan menguasai hati rakyatnya. Yang dominan tersaji adalah pemimpin dilayani oleh rakyat, bukan sebaliknya.

Tidak kompeten di bidangnya. Merosotnya nilai-nilai kepemimpinan yang baik tidak terlepas dari hilangnya idealisme dalam proses rekrutment kekuasaan atau jabatan. Tidak hanya pada jabatan politik, hal ini juga mewabah hampir ke seluruh segmen kepemimpinan. Kapasitas dan kompetensi seakan hanya sebagai pemanis, sebaliknya justifikasi akan didengungkan untuk menutupi transaksi pragmatisme tersebut.

Maka tidaklah mengherankan, kita disajikan beragam polemik, konflik, dan masalah sosial lainnya yang merupakan konsekwensi dari tidak kompetennya seorang pemimpin, sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: "Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat". Orang itu bertanya: "Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi saw menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat". (HR. Bukhari; 57)

Beda halnya jika pemimpin itu lahir secara alamiah, idealis dan kompeten dibidangnya, tentu hulu masalah menjadi prioritas utuk dituntaskan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Jikapun ditemukan kendala saat eksekusi di lapangan maka akan mampu dijelaskan dengan narasi tepat dan logika yang utuh.

Meski demikian kita tidak boleh berputus asa dan optimis bahwa akan hadir pemimpin-pemimpin yang amanah dan mempunyai kapasitas yang memadai dibidangnya serta mendedikasikan diri untuk rakyat semata. Harapan itu harus kita selaraskan dengan memperbaiki perilaku secara fundamental dari diri sendiri secara personal, keluarga dan lingkungan sekitar.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. ar-Ra’du: 11

 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Terjemah:Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”.

Allah Swt tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa dari kenikmatan dan kesejahteraan yang dinikmatinya menjadi binasa dan sengsara, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya. Hal tersebut diakibatkan oleh perbuatan aniaya dan saling bermusuhan, serta berbuat kerusakan dan dosa di muka bumi.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar